Menara Pisa: Ketika Ketidaksempurnaan Justru Menjadi Legacy

Oleh: Yuk Feby

Bagaimana rasanya jika karya terbesar dalam hidup Anda justru menjadi sumber rasa malu?

Bayangkan Anda sedang merancang sebuah menara tinggi, namun baru saja sampai di lantai dua, bangunan Anda sudah miring.

Malu, panik, dan merasa gagal adalah reaksi yang wajar. Itulah yang dirasakan oleh Bonanno Pisano, arsitek Menara Pisa ratusan tahun lalu.

Konon, Bonanno memilih pergi. Menghilang. Mungkin rasa malu terlalu berat untuk ditanggungnya.

Sejak itu, nama Bonanno nyaris tak terdengar lagi. Pembangunan Menara Pisa dilanjutkan beberapa arsitek lain.

Berbagai upaya dilakukan agar bangunan itu “tegak normal”, tapi tetap tidak berhasil. Menara itu terus miring.

Namun, sejarah mencatat hal yang berbeda. Menara Pisa tidak hanya berdiri hingga hari ini, ia justru menjadi salah satu warisan dunia yang paling dicari.

Berjalan mendekati kemegahan Menara Pisa. Belajar bahwa meski miring, ia tetap berdiri tegak dan ikonik dengan caranya sendiri.

Saya sering bertanya-tanya: seandainya Bonanno bisa melihatnya hari ini, apakah ia masih akan menganggap dirinya gagal?

Saat saya berdiri di depan menara ini, saya melihat kerumunan wisatawan yang sibuk berpose.

Kaki sedikit ditekuk, tangan terangkat, seolah menahan agar menara agar tidak roboh.

Ada yang sambil ekspresinya bangga, ada yang seperti sedang berjuang sekuat tenaga menegakkan menara itu.

Saya pun tersenyum kecil.

Lucu juga. Dunia datang dari berbagai penjuru untuk melihat kemiringannya, kita malah sibuk berpura-pura meluruskannya.

Semakin lama saya memperhatikan orang-orang yang bergantian mengambil foto, semakin saya menyadari hal lain.

Kita rupanya senang sekali menampilkan diri seolah sedang memikul beban berat.

Seakan ingin berkata kepada dunia, "Lihat, saya sedang berjuang. Saya sedang menahan sesuatu yang hampir runtuh."

Kalau tidak terlihat "sedang memikul beban", rasanya perjuangan kita tidak valid atau kurang heroik.

Tapi mari jujur pada diri sendiri: bukankah kita sering melakukan hal yang sama dalam hidup?

Kita merasa perlu terlihat "sangat sibuk", "sangat menderita karena tantangan", atau "sangat berkorban", hanya agar kita merasa layak diakui.

Padahal, tanpa ditahan siapapun, menara itu baik-baik saja sampai hari ini.

Pose di depan Menara Pisa, lalu menikmati indahnya pemandangan Menara Pisa saat malam hari.

Melihat Keindahan di Balik Ketidaksempurnaan pada Kelurusan

Kenapa kita selalu merasa kalau hidup itu harus selalu “tegak lurus”?

Seolah-olah kalau hidup kita tidak berjalan sesuai rencana yang umum, kita sudah dianggap gagal total.

Begitu kita melenceng sedikit saja dari “jalur ideal”, vonisnya langsung turun: kita dianggap madesu, masa depan suram.

Saya paham, ketakutan orang tua atau lingkungan saat melihat kita "keluar jalur" itu valid.

Mereka cemas kita tidak punya pegangan yang jelas untuk bertahan hidup. Itu bentuk kasih sayang, meski sering kali membuat kita tertekan.

Kenyataannya, lingkungan memang cenderung menuntut kita untuk selalu “lurus” berdasarkan pemahaman mereka.

Padahal, keberhasilan hidup tidak hanya bisa ditempuh dari satu jalan.

Kita semua tahu Mark Zuckerberg yang drop out kuliah, toh tetap bisa jadi orang besar karena berhasil menjual idenya kepada dunia.

Artinya, ijazah bukan satu-satunya penentu nasib kita kan?

Sayangnya, kita tidak hanya menghadapi tekanan dari keluarga. Sekarang ada media sosial yang membuat kita merasa makin terbebani.

Kita setiap hari dipaksa melihat "etalase" hidup orang lain yang bikin ngiler, sementara kita sendiri tahu "dapur" kita sedang berantakan.

Akhirnya kita jadi malu dan takut terlihat "miring" di mata orang lain, padahal mungkin kita baru sampai "lantai dua" dari proses panjang yang seharusnya dijalani.

Kita sering iri karena melihat hasil akhir orang lain tanpa tahu proses berdarah-darah di belakangnya.

Belum lagi soal starting point atau titik awal kita yang memang berbeda-beda.

Kita sampai berada di titik ini pun adalah rahasia Allah, dan itu pasti yang terbaik bagi kita.

Jadi, daripada terus-menerus membandingkan rute kita dengan milik orang lain, atau diam-diam mengeluh kenapa tidak dilahirkan sebagai anak pasangan crazy rich, fokus saja menyelesaikan apa yang sudah dimulai.

Itu jauh lebih produktif bagi masa depan kita. Dan kalimat ini bukan sekadar teori, karena saya sendiri pernah melewati prosesnya.

Saat Rencana Berjalan Tidak Sesuai Harapan

Balik lagi ke soal Bonanno Pisano, saya sangat memahami kalau alasannya menghilang karena merasa gagal total saat menaranya tidak mau berdiri tegak.

Lebih dari dua puluh tahun lalu, saya memutuskan keluar dari pekerjaan dan fokus pada bisnis yang baru saja saya bangun.

Saat fasilitas kantor ditarik dan saya harus menanggung biaya operasional sendiri, itu adalah kondisi yang sudah saya antisipasi sejak awal. Saya sudah siap dengan konsekuensinya.

Yang justru membuat saya kaget adalah momen saat akhir tahun tiba.

Sebagai karyawan perusahaan multinasional, di bulan Desember saya terbiasa menerima bonus minimal dua kali lipat gaji bulanan, sehingga total pemasukan jadi “tiga kali gaji”.

Bagi saya, Desember adalah bulan mempertebal tabungan, atau membeli sesuatu yang sudah lama direncanakan.

Namun ketika sudah resign, saat itu pemasukan bisnis baru saya justru menurun dibanding bulan-bulan sebelumnya.

Dengan agak shocked, saya masuk ke kamar, mengunci pintu, lalu menangis sesenggukan sambil menutup kepala dengan bantal supaya tidak ada orang yang mendengar.

Mungkin saat itu saya merasa seperti Bonanno yang baru saja sampai di "lantai dua" pembangunan menara, tapi bangunan saya sudah mulai “miring” dan terasa “tidak stabil”.

Setelah tiga jam mengurung diri, kepala mulai terasa ringan. Saya keluar kamar.

Duduk merenung di meja makan, saya menyadari: pindah ke jalur bisnis ini adalah keputusan saya sendiri, jadi saya harus tegar menanggung risikonya.

Ternyata, saya tidak bisa lagi memakai pola pikir lama yang tinggal terima gaji dan bonus secara teratur.

Saya harus belajar menjadi pebisnis yang paham kalau ketidakstabilan adalah harga yang harus dibayar sebelum bisnis benar-benar berjalan.

Dalam tahun-tahun berikutnya, jika menengok kembali ke belakang, saya bersyukur karena waktu itu saya tetap melangkah maju.

Karena jika tidak, saya akan kehilangan banyak sekali momen berharga sekaligus proses pembelajaran yang istimewa dari perjalanan bisnis saya.

Kumpulan momen dan proses panjang itulah yang membimbing saya menemukan kekuatan hari ini.

Lalu bagaimana dengan Anda, apakah juga pernah mengalami momen di mana rencana Anda tiba-tiba berantakan dan membuat Anda merasa berada di titik paling bawah saat sedang mencoba merintis sesuatu yang baru?

Apa yang akhirnya membuat Anda tetap lanjut, bukannya malah menyerah?

Bagi saya sekarang, hidup bukan lagi soal menjadi sempurna tanpa celah.

Hidup adalah tentang bagaimana caranya kita tetap tegak, walaupun kenyataannya menara kita tidak pernah benar-benar lurus.

Berbagi pesan motivasi di depan Menara Pisa. Belajar menerima ketidaksempurnaan sebagai tanda berharganya perjalanan hidup kita.

Menata Ulang Langkah: Mengubah Tantangan Menjadi Kekuatan

Saya sangat suka dengan lirik lagu Kelly Clarkson, “What doesn't kill you makes you stronger.

Bagi saya, siapapun yang pernah merasa di posisi terjepit, kalimat itu benar-benar punya makna yang dalam.

Apa yang tidak menghancurkan kita, memang perlahan membentuk kita jadi jauh lebih kuat.

Hanya saja itu tidak berarti kalau rencana berantakan, kita harus langsung tegak lagi.

Karena kenyataannya tidak sesimpel itu. Kadang, kita cuma butuh waktu untuk menata ulang langkah.

Daripada memaksakan segalanya kembali normal dengan cepat, mungkin kita bisa mulai dari sini:

Pertama, berhentilah membandingkan diri dengan standar orang lain.

Setiap orang punya dasar yang berbeda. Saat kita mulai membandingkan, sering kali kita justru kehilangan fokus.

Lakukan digital detox dan batasi konsumsi konten media sosial yang hanya menampilkan hasil akhir.

Apa yang kita lihat di luar sana hanyalah hasil edit, bukan proses sesungguhnya.

Jangan biarkan standar orang lain meruntuhkan apa yang sedang kita bangun sendiri.

​Kedua, terimalah keunikan proses itu sebagai karakter.

Lihatlah Menara Pisa. Mungkin ia tidak akan pernah dikenal dunia jika ia tetap tegak seperti bangunan pada umumnya.

Begitu pula dengan diri kita. Sesuatu yang dulu dianggap kelemahan, ternyata bisa menjadi trademark.

Saya sendiri sempat tidak nyaman dengan suara saya yang serak dan kadang terdengar bindeng—padahal standar penyiar biasanya bulat dan jernih.

Namun, seingat saya tidak ada yang mempermasalahkan serak itu, justru dianggap keunikan yang membuat saya mudah dikenali.

Saya jadi belajar, apa yang kita anggap sebagai “cacat”, mungkin adalah ciri khas yang justru membuat kita menonjol di antara yang lain.

​Ketiga, fokuslah pada progress, bukan perfection.

Seperti halnya bangunan yang tetap berdiri kokoh karena mampu beradaptasi dengan kondisi tanah yang tidak stabil, kita pun bisa demikian.

Jangan kabur.

Fokuslah pada langkah kecil berikutnya.

Keajaiban itu tidak datang dari hasil akhir yang sempurna, tetapi dari ketangguhan saat kita memutuskan untuk tetap membangun di tengah ketidakpastian.

Kalau sedang merasa buntu, cobalah tuliskan tiga "kegagalan" yang ternyata membentuk karakter kita saat ini.

Anda akan terkejut melihat betapa berharganya luka-luka itu dalam perjalanan kita.

Keempat, jangan lupa bangun batasan.

Pasti ada saja orang yang bakal berkomentar soal jalan hidup yang Anda ambil.

Mereka mungkin bilang Anda salah langkah atau dianggap tidak kompeten.

Masalahnya, mereka bukan orang yang sedang membangun “menara” Anda, jadi mereka sama sekali tidak tahu apa yang sedang terjadi di "lantai dua" perjuangan Anda.

Buat saya, daripada capek-capek berdebat, saya lebih memilih menjadikannya bahan bakar semangat untuk membuktikan kalau keraguan mereka itu tidak beralasan.

Apalagi jika mereka memang cuma ingin melihat kita jatuh, buat apa repot-repot menjelaskan setiap detail proses kita? It’s just a waste of time, don’t you think?

Kadang cukup senyumin aja, lalu lanjut bekerja dalam diam.

Biarkan nanti hasil akhir yang menjawab semuanya, karena itu biasanya jauh lebih makjleb daripada pembelaan diri.

Waktunya Menemukan Arah Baru

Menata ulang langkah memang bukan proses yang instan, tapi bukan berarti Anda harus berjalan sendirian.

Apakah Anda seorang profesional yang ingin bangkit dari fase stagnan, atau seorang pemimpin yang sedang membimbing tim di tengah ketidakpastian?

Saya dan tim di Spektra Arunika menyediakan sesi coaching dan training yang dirancang khusus untuk memetakan kembali potensi Anda agar menjadi kekuatan yang nyata.

Mari berdiskusi tentang langkah apa yang paling masuk akal untuk Anda mulai minggu ini. Klik tautan di bawah ini untuk terhubung dengan saya atau tim Spektra Arunika.

[ Jadwalkan Sesi Konsultasi ]

Dialog Spektra Arunika

Pertanyaan ini sering muncul, apalagi saat hasil yang kita harapkan belum juga kelihatan.

Menurut saya, tidak semua jalan yang berat berarti salah. Kadang justru kita sedang belajar sesuatu yang tidak mungkin didapat kalau semuanya berjalan mulus.

Yang penting, sesekali berhenti untuk evaluasi.

Apakah kita masih bergerak menuju tujuan yang sama? Apakah kita masih belajar?

Kalau jawabannya iya, mungkin kita memang sedang berproses, bukan tersesat.

Menara Pisa miring bukan karena arsiteknya tidak kompeten, tapi karena kondisi tanah yang tidak stabil di bawahnya.

Sering kali, kita merasa tidak kompeten hanya karena kita memaksakan metode yang tidak cocok dengan "tanah" atau lingkungan tempat kita berpijak saat ini.

Masalahnya bukan pada bakat Anda, melainkan pada strategi dan sistem yang digunakan.

Kita perlu memetakan kembali fondasi Anda, bukan menghakimi kemampuan Anda.

Menyerah adalah pilihan terakhir ketika Anda sudah mencoba semua sudut pandang.

Jika Anda merasa tetap "miring", mungkin Anda hanya perlu reframing—mengubah sudut pandang—terhadap tantangan tersebut.

Mungkin yang Anda butuhkan bukanlah cara baru untuk "tegak", melainkan cara baru untuk mengoptimalkan kemiringan tersebut.

Itulah fungsi sesi coaching: membantu Anda melihat apa yang tidak terlihat oleh mata Anda sendiri.

Wajar aja sih. Karena kita sedang membandingkan dua hal yang berbeda.

Yang kita lihat di media sosial biasanya adalah momen terbaik seseorang.

Sementara kita membandingkannya dengan keseharian kita yang penuh drama, tagihan, rasa capek, dan berbagai masalah yang tidak bakal pernah diposting.

Kalau mulai merasa seperti itu, mungkin memang sudah waktunya digital detox— istirahat sebentar dari media sosial—dan kembali fokus membangun "menara" kita sendiri.

Saya pribadi percaya, hikmah tidak selalu langsung kelihatan.

Kadang kita baru mengerti bertahun-tahun kemudian. Itu berulang kali saya alami.

Saat sedang berada di tengah masalah, yang bisa kita lakukan hanyalah berikhtiar sebaik mungkin dan tetap melangkah.

Baru ketika menoleh ke belakang, kita sering berkata, "Oh... ternyata itu yang sedang Allah siapkan.”

Luar biasanya, semakin sering momen itu menyapa Anda, semakin mudah Anda melangkah di tengah badai.

Motivasi mungkin bikin semangat di awal, tapi kita semua tahu itu cepat hilang kalau tidak ada caranya.

Di Spektra Arunika, kami lebih memilih fokus pada solusi yang bisa langsung Anda praktikkan sehari-hari.

Kami tidak menawarkan cara pintas, tapi kami akan menemani Anda menyusun langkah-langkah nyata agar Anda punya pegangan yang jelas untuk terus melangkah, meski di situasi yang paling tidak pasti sekalipun.

Mari mulai langkah kecil itu sekarang.

Baca artikel lainnya:

Logika Bengkok yang Bikin Kita Diam: Cara Berani Berkata “Bisa” pada Tantangan Baru

Cara Tampil Percaya Diri di Depan Umum: Mengolah Grogi Jadi Energi Proton