Apakah Anda Sedang Menjalani Hidup, atau Hanya Sedang Menunggu Hari Berakhir?

Oleh: Yuk Feby

Bagaimana mungkin seorang wanita tunanetra yang tadinya penyiar radio, beserta suaminya yang bergelar doktor rela menaruh diri di jalur amukan ODGJ setiap hari?

Pakai logika "orang waras", pilihan hidup Priskilla dan Fandi ini memang di luar nalar.

Dengan kapasitas intelek mereka, ada banyak opsi untuk menjauh dari risiko fisik tersebut.

Tapi nyatanya, mereka justru memilih menjadi "rumah" bagi mereka yang terpinggirkan.

Di The School of Life Foundation, mereka menampung para ODGJ dan orang terlantar secara mandiri.

Di tengah sulitnya pendanaan, Priskilla dan Fandi berjuang menopang operasional yayasan dengan segala cara—mulai berjualan pakaian bekas, menjadi pembicara, hingga mengupas bawang—agar penghuni tetap bisa makan.

Saya masih ingat betul momen saat mewawancarai mereka. Saya begitu tersentuh mendengar ketulusan Priskilla, “Kalau bukan kita, siapa lagi yang mempedulikan mereka?

Saya pun tak akan lupa saat Fandi berucap polos, “Saya tahu Priskilla adalah wanita untuk saya sejak pertama ngobrol, dan saya akan selalu mendukungnya.

wawancara priskilla fandi

Melihat mereka, saya paham: ketika tujuan hidup terdefinisi kuat, risiko sebesar apa pun menjadi masuk akal.

Saya seperti ditampar pelan—jika Priskilla yang memiliki tantangan fisik dan Fandi yang kapasitas intelektualnya setinggi itu saja berani bertaruh nyawa demi tujuan mereka, alasan apa lagi yang kita pakai untuk terus merasa "kosong" di tengah hidup yang sudah kelewat nyaman ini?

Memahami Rasa Cukup Saat Standar Sosial Menuntut "Lebih"

Kisah Priskilla dan Fandi memang luar biasa. Namun, saya juga belajar bahwa tujuan hidup tidak selalu harus tampil dalam bentuk yang membuat orang membelalakkan mata.

Bagi sebagian orang, kalau cicilan aman, keluarga oke, dan ada waktu untuk hobi atau sekadar nongkrong bareng teman, hidupnya sudah ideal. Istilahnya, ia sudah living the dream.

Saya kenal seseorang yang hidupnya “lurus-lurus saja”. Nafkah berjalan normal, hubungan dengan pasangan bagus, anak-anak sekolah di tempat favorit, dan masih sempat main tenis setiap weekend.

Ia pernah berkata, "Hidup saya sudah pas. Saya merasa tidak ada yang salah dengan apa yang saya jalani sekarang. Sudah on the track kok. Tidak ada yang perlu diutak-atik lagi."

Dari nada suara dan ekspresi tenangnya, saya menangkap ada “sikap tegas” di sana.

Di mata saya, ia jujur. Ia memang sedang menikmati setiap detik kenyamanannya.

Dan tentu saja, “merasa cukup” juga adalah hak saya dan Anda.

Jika bagi Anda panggilan hidup adalah menjadi orang tua yang hadir penuh untuk anak, itu adalah tujuan yang agung.

Jika misi pribadi Anda adalah menjaga kesehatan melalui olahraga atau sekadar membangun relasi sosial yang sehat, itu adalah pencapaian yang luar biasa.

Namun, dunia luar punya cara pandang yang berbeda. Sering kali, lingkungan menatap kita dengan tatapan heran—seolah-olah menjadi "cukup" adalah tanda bahwa kita sudah menyerah atau kehilangan daya saing.

Ada saja sindiran halus seperti, "Kapan kamu akan mengejar proyek yang lebih besar?" atau "Sayang sekali potensi kamu tidak dipakai untuk ambisi yang lebih nyata."

Kita sering merasa tidak tenang bukan karena pencapaian kita “kurang”, tapi karena kita merasa belum memenuhi kriteria sebagai “orang sukses” di mata awam.

Padahal, jika kita sudah merasa berperan “utuh” sebagai seorang manusia, maka menurut saya, rasa cukup itu valid.

Sebab pada akhirnya, kitalah yang harus bangun setiap pagi untuk menjalaninya, bukan mereka yang sibuk memberi komentar.

Terjebak dalam Peran: Saat Hidup Mapan Terasa Hambar

Sekarang saya mengajak Anda membedah poin yang berbeda. Bagaimana jika secara kasat mata hidup Anda sudah mapan, tapi di dalam dada rasanya ada yang terus “mengganjal”?

Anda mungkin tidak kekurangan, tapi hari-hari terasa kosong.

Anda bangun pagi bukan karena bersemangat ingin mencapai sesuatu, tapi sekadar menggugurkan kewajiban.

Anda bekerja murni hanya untuk menunggu notifikasi transferan gaji di akhir bulan.

hidup tanpa tujuan hanya menunggu gajian

Atau yang paling sering terjadi: Anda menjalani hari Senin sampai Jumat layaknya zombie, bertahan hidup hanya untuk menantikan weekend agar bisa melarikan diri sejenak dari rutinitas.

Kalau Anda berada di titik ini, mari kita perjelas satu hal: jangan-jangan masalahnya bukan karena Anda kurang bersyukur.

Bisa jadi, Anda sebenarnya adalah tipe orang pertama—tipe yang punya dorongan misi besar seperti Priskilla dan Fandi—tapi Anda sedang nyaru, menyamarkan diri menjadi tipe kedua yang seolah-olah sudah puas dengan kenyamanan.

Anda punya "mesin" bertenaga jet di dalam diri, tapi Anda memaksanya berjalan merayap di gang sempit. Tentu saja rasanya sesak dan serba tidak enak.

Kita sering kali kebingungan membedakan mana "tuntutan peran sosial" dan mana "kehidupan yang sebenarnya", menukar kedamaian sejati demi label-label agar terlihat aman di mata orang lain.

Jika Anda penasaran termasuk tipe yang mana, cobalah lakukan "Uji Pensiun" ini.

Tanyakan pada diri sendiri: Jika besok pagi semua label dan peran sosial Anda dicabut—jabatan di kantor hilang, status menguap, dan tidak ada lagi yang menggaji Anda—apa yang membuat Anda tetap sudi beranjak dari tempat tidur?

Saya paham betul, menjawab ini tidak bisa instan.

Menemukan "mesin" atau tujuan hidup yang kuat bukan hasil kerja semalam, melainkan tumbuh secara alami lewat hal-hal kecil yang dilakukan dengan hati.

Perhatikan contoh ini: Tujuan hidup Anda adalah memastikan keluarga sehat dan Anda mewujudkannya dengan menanam "apotek hidup" di rumah.

Anda melakukannya setiap hari dengan dedikasi penuh, tidak peduli seberapa sibuk peran Anda di luar.

Apotek hidup itu selalu jadi “anak kesayangan”, dan Anda begitu bangga dengan “pertumbuhan”nya dari hari ke hari.

Lalu, apa yang terjadi? Ketika orang lain melihatnya, mereka mulai mengagumi, lalu minta diajari agar punya apotek hidup di rumah mereka sendiri.

Tujuan Anda pun berkembang—dari yang tadinya hanya untuk keluarga sendiri, kini meluas untuk membantu orang lain.

Inisiatif kecil itu akhirnya bisa saja berubah menjadi bisnis herbal yang bermanfaat bagi lingkungan luas.

Mari lihat contoh lain: Anda senang menulis artikel karena tujuan Anda adalah berbagi ilmu untuk membantu sesama.

Di sela-sela rutinitas, Anda selalu menyediakan waktu untuk menuangkan ide yang bisa bermanfaat bagi pembaca.

Saat Anda sudah pensiun, kemungkinan besar Anda justru akan melakukannya dengan lebih intens, bukan malah berhenti.

Apalagi jika ada pembaca yang berterima kasih karena mendapatkan solusi dari tulisan Anda, dorongan berbagi itu akan semakin kuat.

Anda pun terpicu untuk menulis lebih banyak lagi, dan mungkin menjadi jalan lahirnya sebuah buku best seller.

You see, arah hidup yang kuat akan membuat semangat Anda selalu menyala apa pun situasinya.

Ia dimulai dari diri sendiri, dilakukan dengan segenap jiwa.

Tujuan hidup yang kuat biasanya menginspirasi orang lain, dan dengan berjalannya waktu, dapat berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar.

Tujuan Hidup Sebagai "Jangkar Harga Diri"

Saya mengamati ada satu “kerugian” yang muncul saat seseorang menjalani hidup tanpa arah yang jelas.

Mereka jadi insecure—rentan terhadap opini luar, bahkan cenderung menafsirkan situasi menurut pikiran mereka sendiri.

Misalnya begini. Anda sedang asyik memindahkan bibit cabai dari pot ke tanah di halaman rumah. Tiba-tiba, seorang teman lewat dan nyeletuk, "Duh, ngapain sih kotor-kotor begitu? Mending mancing bareng kita aja."

Jika Anda tidak punya tujuan yang kuat, Anda tidak hanya merasa goyah karena omongan itu, tapi Anda mulai "mengarang" tafsiran sendiri.

Anda mungkin berpikir, "Wah, dia pasti meremehkan saya karena saya kotor-kotoran begini," atau "Dia pasti menganggap saya sok sibuk."

Padahal, si teman mungkin cuma sekadar ingin mengajak kumpul karena kangen.

Masalahnya bukan pada ajakan si teman, tapi pada pikiran Anda sendiri yang sudah terlanjur insecure. Anda jadi overthinking terhadap situasi yang biasa saja.

Sebaliknya, kalau tujuan Anda kuat—misalnya Anda punya misi memastikan keluarga mengonsumsi pangan sehat dari apotek hidup di rumah—komentar seperti itu cuma jadi angin lalu.

hidup tanpa tujuan hanya menunggu gajian

Anda merasa tidak perlu membela diri. Anda bisa membalas dengan senyum santai, "Kasihan cabenya kalau ngga dipindahin sekarang. Nanti kalau waktunya pas, saya ikut deh."

Begitu juga misalnya, saat seseorang mengomentari tulisan Anda terlalu "sok bijak".

Jika harga diri Anda tidak stabil, Anda mungkin akan tersinggung dan memutuskan berhenti menulis.

Tapi jika jangkar Anda kuat, Anda justru akan berterima kasih. Anda melihat komentar itu bukan serangan, melainkan masukan untuk meningkatkan kualitas tulisan Anda di masa depan.

Kehadiran orang yang punya tujuan itu menenangkan.

Karena tidak sibuk mencari validasi, mereka cenderung merasa tidak perlu “mengalahkan” atau bahkan menyakiti orang lain.

Bukankah harga diri yang mapan adalah imbalan yang sangat istimewa dari menjalani hidup dengan tujuan yang pasti?

Saatnya Bertanya dengan Jujur

Menemukan tujuan hidup tidak selalu dimulai dari jawaban yang besar. Sering kali, kita baru menyadarinya setelah melihat kembali hal-hal yang selama ini membuat hidup terasa berarti.

Kalau akhir-akhir ini Anda merasa ada ruang kosong yang belum terisi, coba lakukan tiga hal sederhana.

Pertama, lakukan Audit Kedamaian.

Perhatikan kapan Anda merasa benar-benar bahagia. Mungkin saat makan bersama keluarga, menyelesaikan pekerjaan yang Anda cintai, atau ketika dapat membantu seseorang mengatasi kesulitannya.

Jangan anggap remeh momen-momen itu, dan jangan biarkan tuntutan hidup atau penilaian orang lain merampasnya.

Kedua, ambillah Risiko Kecil.

Lakukan satu kebaikan tanpa sibuk menghitung untung-ruginya: berbagi pengalaman, membantu teman, atau mencoba sesuatu yang selama ini Anda tunda.

Siapa tahu, justru dari sana Anda menemukan sisi diri yang belum pernah Anda kenal.

Ketiga, ambillah peran, sekecil apa pun itu, dalam membantu pertumbuhan orang lain.

Tidak harus mengubah dunia. Kalau hari ini ada satu orang yang bertumbuh karena kehadiran Anda, itu sudah lebih dari cukup.

Lalu berhentilah sebentar dan lihat kembali.

Di bagian mana hati Anda terasa paling hidup—ada percikan yang memantik gairah?

Aktivitas mana yang membuat lelah terasa ringan?

Pertemuan dengan siapa yang selalu membuat Anda pulang membawa energi baru?

Jangan buru-buru mencari jawaban yang sempurna.

Cukup ikuti jejak-jejak kecil itu.

Siapa tahu, di sanalah selama ini tujuan hidup Anda sedang memberi tanda.

Tujuan hidup tidak berhenti ketika Anda menemukannya. Justru di situlah perjalanan yang sesungguhnya dimulai.

Semoga Spektra Arunika bisa menjadi salah satu ruang tempat perjalanan itu terus bertumbuh.

Mulai Perjalanan Anda

Dialog Spektra Arunika

Eh, resign itu bukan obat ajaib, lho. Sebelum menyalahkan kantor atau rutinitas, coba cek dulu: apakah Anda benar-benar sedang "terjebak", atau cuma sedang nyaru jadi orang lain?

Kadang kita tidak perlu ganti panggung, cukup ganti cara kita main peran.

Coba cari celah kecil untuk hal yang Anda cintai di sela-sela pekerjaan rutin.

Kalau "mesin jet" Anda mulai dinyalakan sedikit saja di tempat yang tepat, hidup bakal terasa jauh lebih ringan kok. Jangan buru-buru bakar jembatan kalau perahu Anda belum siap.

Anggap aja itu background noise yang tidak perlu didengarkan.

Orang yang hobi ngomentarin hidup orang lain biasanya lagi sibuk menutupi rasa cemas di hidupnya sendiri.

Kalau Anda sudah punya "jangkar" yang kuat—tahu persis kenapa Anda memilih jalan ini—omongan mereka bakal lewat begitu saja kayak angin sepoi-sepoi.

Saya sih mikirnya sederhana: kalau mereka ngga bantu bayar tagihan, ngga bayarin ongkos naik haji, ngga bantuin perjuangan mewujudkan impian-impian besar kita… ya senyumin aja. Nanti juga diem sendiri.

Wajar banget. Jangan paksa diri untuk menemukan "wahyu" dalam semalam. Kadang, percikan itu tidak datang dari hal-hal besar seperti "menyelamatkan dunia".

Mulailah dari yang remeh-temeh: mungkin Anda suka merapikan buku, atau masak buat keluarga, atau sekadar jalan kaki pagi.

Fokus saja dengan apa yang membuat Anda tersenyum tipis saat melakukannya.

Kalau hal-hal kecil itu terus dirawat, lama-lama dia bakal tumbuh jadi sesuatu yang lebih besar.

Just slow down, hidup bukan lagi kejar tayang drama Korea.

Harga diri tidak serapuh itu, tidak luluh lantak cuma gara-gara satu atau dua kegagalan.

Kalaupun gagal, setidaknya Anda gagal saat sedang mencoba sesuatu yang Anda yakini, bukan gagal karena cuma jadi penonton.

Lagipula, kalau kita hidup cuma berdasarkan rasa takut akan penilaian orang, itu namanya kita menyerahkan kendali hidup ke mereka, bukan ke diri sendiri.

Gagal? Ya sudah, bangkit lagi. Evaluasi, lalu coba lagi. Itu jauh lebih keren daripada "berhasil" tapi hidupnya ngga pernah bener-bener dimulai.

Membantu orang itu tidak harus selalu berupa materi atau tenaga yang besar kan? Kadang itu sesederhana jadi pendengar yang baik atau berbagi satu ilmu yang bermanfaat.

Justru di saat kita sedang “berantakan”, berbuat satu kebaikan kecil untuk orang lain bisa membuat kita merasa tetap berguna. Kadang malah bikin kita sadar, ternyata kita tidak seberantakan yang kita kira.

Tapi ingat, membantu orang lain bukan berarti menguras energi sampai ambruk sendiri. Tetap tahu batasan, ya. You can't pour from an empty cup.

Tinggal ganti aja. Tujuan hidup itu bukan tato yang permanen di kulit.

Kita manusia, kita tumbuh, dan yang kita mau hari ini bisa jadi beda sama yang kita mau sepuluh tahun lagi.

Jangan terjebak sama idealisme bahwa tujuan hidup harus fixed dari muda sampai tua.

Fokus saja dengan apa yang membuat Anda hidup dan merasa berguna saat ini. Kalau nanti berubah, ya tinggal di-update.

Life is an open book, you are the author. Jangan terlalu kaku, hidup itu dinamis!

Baca artikel lainnya:

Logika Bengkok yang Bikin Kita Diam: Cara Berani Berkata “Bisa” pada Tantangan Baru

Lebih dari Sekadar Ambisi: Menggapai Keunggulan Hidup dengan Proton Excellence