Kamar itu terasa sangat sunyi. Saya sedang dirawat di area khusus pasien dengan masalah jantung.
Suasananya cukup mencekam, karena di kamar sebelah kiri dan kanan saya, semua orang sedang berjuang dengan penyakit jantung—lengkap alat monitor dengan bunyi bip bip yang khas itu.
Saya berada di sana karena nyeri lambung yang parah memicu detak jantung saya tidak beraturan. Tekanan darah saya merosot ke 80/50, mungkin karena sudah berhari-hari susah tidur.
Dengan riwayat kelainan katup jantung bawaan sejak remaja, dokter akhirnya memutuskan saya harus opname untuk observasi ketat.
Tubuh saya terasa lemas karena sudah berhari-hari sulit makan. Karena rasa mual masih terasa, praktis saya hanya bisa mengandalkan cairan infus untuk bertahan.
Di tengah kondisi itu, saya bingung bukan main. Pasalnya, beberapa hari lagi ada acara di luar kota dan saya punya tanggung jawab sebagai salah satu anggota seksi acara.
Akhirnya, dengan berat hati, saya memberi kabar kepada panitia bahwa saya sedang dirawat di rumah sakit.
Tak lama kemudian, ponsel saya bergetar. Sebuah panggilan masuk. Saya mengangkatnya dengan suara yang masih sangat lemah.
Di ujung telepon, seseorang yang juga bagian dari panitia itu menanyakan kepastian kehadiran saya.
"Saya sedang dirawat di rumah sakit," ujar saya pelan.
Saya menunggu tanggapan yang wajar, setidaknya pertanyaan sederhana seperti, "Sakit apa?" atau "Sudah berapa hari dirawat?". Namun, alih-alih empati, saya justru menerima sambaran.
"Oh, jadi intinya bisa datang atau tidak pas acara nanti?"
Suaranya datar, tajam, dan tidak memberi jeda. Seolah-olah kondisi saya yang sedang berjuang dengan kesehatan hanyalah variabel kecil yang tidak perlu dibahas.
Saya merasa seperti disambar kilat. Terdiam seketika.
Lalu dengan terbata-bata, saya menjawab, "Iya, kayaknya bakal ngga bisa datang."
"Okelah kalau kayak gitu. Saya mau lanjut meeting," jawabnya.
Sambungan telepon langsung terputus. Saya tertegun. Tidak ada tanya kabar, tidak ada ruang untuk rasa sakit saya. Semua terasa begitu dingin.
Keesokan harinya, barulah ada kepastian tentang kesehatan saya: ternyata saya "hanya" terkena GERD, penyakit asam lambung yang menimbulkan nyeri di dada.
Setelah lima hari dirawat, saya pun diizinkan pulang. Namun, bagi saya, insiden telepon itu meninggalkan kesan yang jauh lebih membekas daripada diagnosa penyakitnya sendiri.
Memahami Polah Alam: Mengapa Mode Kilat Sering Mengabaikan Nuansa
Terus terang, saya sempat merasa kecil hati. Mengapa rekan panitia itu sepertinya tidak peduli sedikit pun dengan kondisi saya? Apakah hanya sedangkal itu pertemanan kami, padahal sudah terjalin bertahun-tahun?
Namun, setelah merenung lebih dalam, saya menyadari bahwa setiap orang memiliki kecenderungan alami dalam bertindak, terlepas dari dekat atau tidaknya mereka dengan seseorang.
Setelah mengamati dan mempelajarinya selama lebih dari dua dekade, saya menyusun kecenderungan tingkah polah alami ini, dan menyebutnya: Polah Alam.
Konsep Polah Alam ini menjelaskan bahwa manusia cenderung beroperasi dalam empat mode: Kilat yang bergerak cepat, Mentari yang hangat, Salju yang rapi, dan Awan yang tenang.
Saat insiden telepon kemarin, jelas sekali bahwa rekan saya itu sedang berada dalam "Mode Kilat".
Dalam Mode Kilat, perhatian mereka hanya tertuju pada satu hal: hasil yang cepat. Baginya, urusan perasaan—termasuk rasa sakit yang waktu itu saya alami—sering kali dianggap sebagai noise atau gangguan.
Akibatnya, mereka cenderung mengabaikan nuansa. Bukan karena tidak berperikemanusiaan, hanya saja urusan perasaan atau masalah pribadi orang lain dianggap tidak perlu menyita waktu.
Saking fokusnya pada tujuan, rekan kerja saya itu menjadi tidak sabaran untuk mendapat kepastian tentang kehadiran saya.
Saya membayangkan, dalam pikirannya sudah terpeta dua solusi: apa yang harus ditindaklanjuti jika saya bisa hadir, ada apa yang harus disesuaikan jika saya berhalangan.
Itulah sebabnya mungkin ia menganggap basa-basi bertanya soal kondisi kesehatan saya hanyalah menghambat lahirnya keputusan.
Ia pun jadi terkesan kurang peka, terlihat dari nada kalimatnya yang terasa menusuk.
Dalam Polah Alam, perilaku itu bisa dibaca lewat apa yang saya sebut sebagai Empat Arus Utama: Arus Diri, Arus Logika, Arus Eksekusi dan Arus Interaksi.
Saat seseorang berada di Mode Kilat, Arus Diri mereka memang cenderung tidak mau pusing dengan hal-hal yang sifatnya perasaan.
Sementara itu, Arus Logika mereka memang hanya fokus pada hasil akhir. Karena fokusnya cuma di situ, Arus Eksekusi mereka pun jadi buru-buru, maunya semua cepat beres.
Dampaknya, Arus Interaksi yang keluar jadi kering dan tajam, karena bagi mereka, basa-basi atau menanyakan kabar cuma bikin macet alur kerja.
Jadi, kalau Anda pernah merasa diabaikan oleh seseorang seperti saya waktu itu, mungkin itu bukanlah masalah personal.
Itu murni karena sistem mereka sedang bekerja dengan cara yang memang tidak didesain untuk menangkap nuansa.
Ironisnya, menyadari hal itu ternyata membuat saya harus lebih jujur pada diri sendiri.
Pemahaman ini bukan hanya untuk membedah orang lain, tapi juga untuk bercermin.
Ternyata, saya tidak hanya pernah menjadi korban sambaran Kilat, tetapi pernah berada di posisi sebaliknya—menjadi orang yang justru melakukan hal serupa kepada rekan kerja saya.
Ketika Efisiensi Tanpa Sadar Melukai Orang Lain
Ketika saya masih berprofesi sebagai Chief Engineer di perusahaan water treatment chemical, saya selalu percaya bahwa efisiensi adalah kunci.
Namun, ada satu siang yang tak terlupakan dengan salah satu junior saya.
Saat itu, ia baru saja menyerahkan proposal teknisnya untuk saya review.
Usai membacanya, saya mendapati ada beberapa poin yang perlu disempurnakan.
Saya lihat rekan saya sedang bekerja di depan layar komputer. Saya memanggilnya, memberikan arahan perbaikan, dan ia menyanggupinya.
Satu jam berlalu. Saya melirik ke mejanya, proposal itu masih tergeletak di sana, belum tersentuh. Ia sendiri tampak masih fokus dengan tugas yang tadi sedang dikerjakan.
Rasa tidak sabar saya pun muncul begitu saja. Pikiran saya sederhana: daripada menunggu lebih lama, kenapa tidak saya bereskan sendiri sekarang juga?
Dengan cepat, saya membuka file proposalnya di komputer, mengubah bagian yang menurut saya kurang, lalu mencetak dokumen yang sudah diperbaiki itu.
Draf lamanya? Tanpa pikir panjang, saya masukkan ke kotak khusus berisi berkas yang akan dihancurkan.
Bagi saya, tugas sudah beres, masalah selesai. Saya merasa sudah membantunya meringankan beban.
Tak lama kemudian, rekan kerja saya itu baru ngeh kalau tugasnya sudah saya ambil alih.
Ia tidak protes. Ia tidak bicara apa-apa. Saya pun tenang, merasa telah melakukan hal yang benar.
Kejujuran itu baru datang bertahun-tahun kemudian, setelah saya resign dari perusahaan itu dan memulai bisnis sendiri.
Saat kami berbincang santai di satu kesempatan, mantan junior saya mengungkapkan bahwa kejadian itu sangat membekas di hatinya.
Bukan karena pekerjaannya diperbaiki, tapi karena inisiatif saya mengambil alih dan membuang drafnya, tanpa mengatakan apa-apa.
Saat itu, saya baru sadar: bagi saya, itu adalah efisiensi, tapi baginya, itu adalah pengabaian total atas martabatnya.
Cermin itu akhirnya menampar saya. Saya menyadari, saat itu saya dibutakan oleh Arus Logika yang hanya berorientasi pada hasil akhir.
Apa pun yang tidak secepat standar saya, memicu ketidaksabaran. Akibatnya, Arus Eksekusi alami saya pun mengambil alih. Saya merasa jauh lebih baik mengerjakan sendiri daripada harus menunggu.
Saya tidak pernah sadar bahwa "bantuan" sepihak itu justru merusak kepercayaan dirinya.
Saya melihat draf itu hanya sebagai benda, padahal di baliknya ada proses kerja dan tanggung jawab yang seharusnya ia selesaikan.
Sekarang saya mengerti, efisiensi yang menjadi kekuatan saya ternyata bisa berubah menjadi arogansi jika saya tidak memanusiakan orang di sekitar saya.
Ternyata, kecepatan tanpa empati hanyalah cara halus untuk melukai harga diri orang lain.
Mengubah Kecepatan Menjadi Empati
Saat kita berada dalam "Mode Kilat", kecepatan adalah bahasa utama. Namun, tanpa "rem", ketajaman kita bisa dengan mudah menjadi duri.
Kabar baiknya, kita tidak perlu mematikan mesin Kilat kita. Kita hanya perlu belajar menambahkan ritme agar ketegasan kita tidak malah berujung pada hal yang negatif.
Saat menghadapi rekan yang sedang sakit atau terkena musibah misalnya, jangan biarkan ketidaksabaran Mode Kilat mengambil alih kendali.
Berhentilah sejenak. Tanyakan kondisinya dengan tulus, "Sakit apa? Bagaimana bisa sampai begini?"
Tunjukkan perhatian sebelum Anda masuk ke urusan pekerjaan.
Jika ada yang harus dikonfirmasi, kita bisa menggunakan redaksi yang memanusiakan. Misalnya: "Sepertinya kondisimu sedang sulit ya untuk hadir? Tidak apa-apa, sampaikan saja supaya saya bisa menyesuaikan langkah selanjutnya."
Dengan begitu, tujuan Anda—mendapatkan kepastian—tetap tercapai tanpa harus mengorbankan perasaan orang lain.
Tindakan tersebut adalah cara kita menunjukkan empati yang tulus terhadap kondisi orang lain.
Dalam konsep Polah Alam, setiap mode memiliki kekuatan alaminya masing-masing. Inilah yang saya sebut: Polah Juara.
Nah, kemampuan untuk membangun hubungan yang hangat dan penuh perhatian ini adalah Polah Juara yang dimiliki oleh Mode Mentari.
Lalu bagaimana saat saya harus menangani proposal junior saya dulu?
Kuncinya adalah menjaga batasan dan kejelasan agar tidak terjadi salah paham.
Alih-alih main comot aja proposal yang “tergeletak” di meja kerja rekan junior itu, saya sebetulnya bisa bersopan-santun: "Sepertinya kamu sedang fokus dengan tugas lain. Biar cepat beres, yang ini saya kerjakan dulu ya, bagaimana?"
Pendekatan ini adalah cara kita mengedepankan etika kerja yang rapi serta wujud menghargai privasi orang lain.
Inilah Polah Juara dari Mode Salju, yang memiliki kekuatan alami dalam berkomunikasi secara tertata demi menghindari salah paham.
Sekarang mari kita lihat dari sudut pandang berbeda.
Jika kita terus-menerus mengabaikan nuansa demi kecepatan, sebetulnya kita sedang mengakses Polah Juara dari Mode Kilat secara berlebihan.
Namun, meskipun fokus pada hasil dan kecepatan itu sendiri adalah kekuatan alami atau Polah Juara dari Mode Kilat, jika akses ini tidak dikendalikan, ia justru membuat kita kehilangan kepekaan, menjadi tidak sabaran, dan mengabaikan nilai-nilai kemanusiaan di sekitar kita.
Dalam konsep Polah Alam, kurang peka dan tidak sabaran termasuk Polah Latih dari Mode Kilat.
Saya menyebutnya demikian karena kita perlu secara sadar melatih diri untuk mengerem kecepatan kita dan menahan diri agar tidak selalu menuruti dorongan instan Mode Kilat.
Melatih diri untuk mengerem ini memungkinkan kita untuk mengakses mode lain—seperti Mentari atau Salju—yang justru lebih sesuai untuk situasi tersebut.
Dengan menguasai kapan harus melesat seperti Kilat, kapan harus hangat seperti Mentari, kapan harus tertata seperti Salju, dan kapan harus tenang seperti Awan, kita tidak lagi sekadar menjadi "cepat", tapi menjadi pribadi yang benar-benar efektif.
Mungkin hari ini Anda teringat seseorang yang terasa begitu dingin, terlalu cepat, atau seolah tidak peduli.
Namun, mungkin juga Anda justru teringat momen ketika tanpa sadar Anda pernah menjadi orang itu.
Itulah mengapa Polah Alam bukan dibuat untuk memberi label, melainkan untuk membantu kita memahami.
Memahami bahwa setiap orang memiliki kecenderungan alami, sekaligus kemampuan untuk memilih respons yang lebih tepat.
Mode Kilat adalah anugerah ketika dibutuhkan keputusan cepat dan tindakan tegas.
Namun, seperti semua kekuatan, ia perlu diimbangi dengan kesadaran agar tidak berubah menjadi ketajaman yang melukai.
Semakin kita mampu mengenali kapan harus melesat seperti Kilat, kapan menghangat seperti Mentari, kapan menata seperti Salju, dan kapan menenangkan seperti Awan, semakin lentur pula cara kita menghadapi kehidupan.
Jika tulisan ini membuat Anda melihat diri sendiri atau orang-orang di sekitar dengan cara yang berbeda, ikuti terus seri Polah Alam.
Pada artikel berikutnya, kita akan mengenal lebih dekat Mode Mentari, mode yang memiliki kekuatan alami dalam membangun hubungan yang hangat sekaligus tantangan yang sering kali tidak disadari oleh pemiliknya.
Sebelum itu, saya ingin mendengar pengalaman Anda. Pernahkah Anda mengalami "sambaran Kilat", atau justru menyadari bahwa Andalah yang sedang berada dalam Mode Kilat?
Silakan bagikan di kolom komentar. Saya akan sangat senang bisa berdiskusi dengan Anda.
Komentar (0)
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama memberikan tanggapan!