Rasanya pingin nangis, saking terharunya! Itu yang saya rasakan setiap menyaksikan atlet Indonesia memenangkan medali emas SEA Games, Asian Games, apalagi Olimpiade.

Rasa bangga sebagai bangsa Indonesia tiba-tiba mencuat, diiringi rasa kagum dan terima kasih mendalam kepada atlet yang sedang memetik hasil perjuangannya.

Kolase Rahmat Erwin Abdullah: menggendong pelatih, memegang medali emas, dan penghormatan pada bendera Merah Putih.
Peraih medali emas Asian Games 2026 cabang angkat besi kelas 75 kg, Rahmat Erwin Abdullah, merayakan kemenangan dengan sang pelatih di Nagoya, Jepang.

Kali ini, atlet hebat itu adalah Rahmat Erwin Abdullah. Ia merebut medali emas Asian Games 2026 cabang olahraga angkat besi kelas 75 kg, dengan total angkatan 366 kg (snatch 160 kg, clean and jerk 206 kg).

Rahmat yang kini berusia 25 tahun memang dikenal sebagai “raja rekor”, soalnya sudah berkali-kali memecahkan rekor atas namanya sendiri di kelas yang berbeda. Jadi kemenangannya atas atlet Thailand dan Korea Utara memang sudah dinantikan.

Ketika pendukung Rahmat bersorak-sorai meluapkan kegembiraan atas medali emas kedua bagi kontingen Indonesia, Rahmat —yang baru memastikan kemenangannya— berpose di atas panggung layaknya seorang binaragawan yang sedang bertanding.

Ekspresinya ceria sekali, gayanya persis anak muda yang “belum punya beban hidup”.

Tingkah kocaknya pun disambut tepuk tangan riuh dan teriakan semangat dari tribun penonton.

Dari sana kamera berpindah menyorot seorang pria yang berdiri tidak jauh dari panggung tempat Rahmat beraksi.

Matanya tertuju pada Rahmat, wajahnya terlihat sangat senang, ia melompat-lompat dan tampak berusaha keras menahan emosi yang meledak karena prestasi Rahmat.

Ketika turun dari gelanggang, pria itulah yang pertama dipeluk Rahmat. Rahmat pun langsung digendong oleh pria yang lebih kecil darinya itu.

Dari atas punggung, Rahmat tersenyum lebar sambil melambaikan tangan kepada para reporter yang meliputnya.

Pria itu bernama Erwin Abdullah. Ia bukan saja bertindak sebagai manajer sekaligus pelatih, melainkan juga ayah yang mengasuh Rahmat sejak kecil.

Ketika Buah Jatuh Tak Jauh dari Barbelnya

Rahmat boleh dibilang “berdarah biru” dalam dunia angkat besi. Bagaimana tidak? Sang ayah, Erwin Abdullah, adalah legenda hidup angkat besi Indonesia yang pernah mempersembahkan medali perak Asian Games Busan 2002.

Sedangkan sang ibu, Ami Asun Budiono, juga bukan orang sembarangan, melainkan mantan atlet nasional angkat besi yang dua kali menyabet medali emas SEA Games 1995 dan 1997.

Kalau dilihat dari faktor genetik, Rahmat ini ibarat smartphone edisi flagship keluaran terbaru: hardware-nya sudah disetel paling prima dari pabriknya.

Kalau kebanyakan anak seusianya dulu diberi mainan robot-robotan atau mobil remote control, Rahmat kecil sudah akrab dengan bau kapur magnesium dan barbel yang beratnya bikin dengkul kita ngilu sekadar mendengarnya. Ia sudah diajari angkat besi sejak kelas 1 SD.

Tapi, mari kita tarik napas sejenak dan menyelami kisah ini lebih dalam. Bukan sekadar soal otot yang dibentuk di gym, atau keringat yang menetes di lantai pelatnas.

Ada sebuah pertanyaan yang menggelitik di sini—yang jika kita telusuri jawabannya dapat membuat kita berpikir sambil manggut-manggut, "Ah, pantesan anak ini sukses menggebrak di panggung dunia."

Pertanyaan itu adalah: kenapa sang anak bisa melampaui pencapaian sang ayah?

Bukankah sering kali anak yang orang tuanya punya nama besar mengalami “kutukan psikologis” seperti the shadow of parental expectations—di mana anak justru tertekan karena harus menyamai atau melebihi prestasi orang tuanya?

Di sinilah letak harmoni atmosfir keluarga ini. Alih-alih menjadi beban mental, latar belakang orang tua ditransformasikan menjadi blueprint yang jelas.

Rahmat tidak perlu meraba-raba jalan gelap menuju tangga juara, karena kedua orang tuanya sudah memetakan kegagalan di masa lalu agar tidak perlu dilewati lagi oleh sang anak.

Menurut Erwin, awalnya Rahmat kelihatan tidak berminat. Hari-harinya di sekitar dunia angkat besi dijalani begitu saja. Makanya, wajar kalau sang ayah merasa kaget ketika suatu hari Rahmat mendadak bilang ingin serius terjun menjadi atlet angkat besi profesional.

Niat Rahmat ditanggapi Erwin dengan sebuah kalimat, “Okay, kalau kamu memang pingin profesional, kita berlatih serius supaya prestasimu lebih hebat dari saya.”

Dari sinilah keindahannya bermula. Rahmat memilih angkat besi bukan karena dipaksa oleh orang tuanya. Keputusan besar itu lahir dari pilihannya sendiri—bisa jadi terserap secara diam-diam oleh nama besar ayah-ibunya.

Mungkin karena itu adalah pilihannya sendiri, Rahmat dapat menjalani latihan berat selama bertahun-tahun hingga saat ini. Ia memiliki tanggung jawab penuh kepada dirinya sendiri, bukan semata-mata karena harus memenuhi ekspektasi orang tua.

Sayangnya, di luar sana banyak anak yang tertekan karena orang tuanya terlalu bernafsu memaksakan arah dan ambisi pribadi.

Akibatnya, mereka justru berjalan dengan langkah berat dan gagal memaksimalkan potensinya.

Di keluarga Rahmat, sepertinya kebebasan memilih justru melahirkan mental juara yang merdeka.

Badannya Saja, Otaknya Bapak Semua

Jauh sebelum kemenangan di Jepang ini, ketika Rahmat mulai menapaki panggung dunia sebagai seorang wonder boy di usia belia beberapa tahun lalu, sang ayah pernah ditanya oleh awak media mengenai rencana pengembangan Rahmat selanjutnya.

Waktu itu, jawaban Erwin Abdullah tetap bersahaja namun tegas, “Kedisiplinan Rahmat sudah bagus, dan kuncinya ke depan sederhana saja—ia harus lebih nurut lagi.”

Apapun strategi dan arahan yang diberikan, Rahmat diminta untuk patuh tanpa banyak membantah.

Dan waktu membuktikan kebenarannya.

Usai memastikan medali emas sekaligus memecahkan rekor dunia di Asian Games 2026 ini, Rahmat berdiri di depan para reporter dengan senyum lepas.

Tanpa ragu, ia melontarkan kalimat ikonik yang merangkum seluruh rahasia dapur keberhasilan mereka: "Saya ini cuma badannya aja, otaknya bapak semua. Pokoknya saya sih nurut aja."

Sebuah pernyataan yang sepertinya cukup langka diucapkan oleh anak muda jaman sekarang—yang biasanya senang mendebat atau bilang "Ah, dad, you're outdated!" kepada orang tuanya.

Dalam psikologi olahraga, apa yang dilakukan Rahmat ini adalah wujud nyata dari coach-athlete trust—sebuah bentuk kepercayaan yang terbangun secara matang.

Ini tampaknya bukan sekadar kepatuhan karena tekanan, melainkan bentuk kepercayaan yang membuat Rahmat bersedia menyerahkan urusan taktis kepada orang yang paling ia percaya.

Kombinasi ini menjelma menjadi formula mematikan yang berhasil membuat lagu Indonesia Raya bergema di Nagoya City Trade and Industry Center pada pesta olahraga Asia terbesar, Sabtu 26 September 2026.

Bukan Sekadar Dongeng Kejayaan Masa Lalu

Di atas pelatnas yang keras, Rahmat tidak perlu pusing memikirkan analisis strategi yang rumit: taktik periodisasi latihan, kalkulasi berat angkatan, atau manajemen stres kompetisi.

Ia tahu persis bahwa sang ayah bisa membaca setiap inci kelebihan dan kekurangannya lewat pengalaman puluhan tahun di arena yang sama.

Namun coach-athlete trust itu tidak lahir hanya sekadar karena sang ayah adalah seorang mantan juara.

Kepercayaan itu hadir dan terus bertumbuh karena Rahmat merasakan sendiri dampak nyatanya. Setiap arahan dan strategi yang diberikan sang ayah terbukti manjur mengantarnya berkiprah lebih jauh.

Rahmat percaya sepenuhnya karena ia merasakan sendiri hasilnya, bukan sekadar mendengarkan cerita kejayaan masa lalu.

Namun kepercayaan itu tidak berhenti pada urusan taktik atau prestasi di atas kertas. Jika kita memperhatikan gestur mereka di depan kamera, ada hal lain yang terasa sangat menyentuh.

Ilustrasi cat air Rahmat Erwin Abdullah diwawancara ayahnya di gym angkat besi. Keduanya berpose menghadap kamera.

Dalam sebuah sesi wawancara, Rahmat —yang postur tubuhnya lebih besar dan tinggi dibandingkan sang ayah—dengan santai dan konsisten terus merangkul Erwin. Tidak ada rasa canggung atau gengsi khas anak muda—hanya ada kehangatan yang tulus.

Dan ketika sang reporter bertanya, "Menurut kamu, ayah itu orang yang seperti apa?" jawaban Rahmat meluncur tanpa keraguan.

Dengan spontan ia menjawab, “Bapak seorang atlet pekerja keras yang hebat…” Lalu sambil memandang ayahnya dengan wajah tersenyum, Rahmat menambahkan, “...dan seorang yang sayang sama anaknya.”

Mendengar seorang anak—apalagi seorang atlet juara—menempatkan "rasa sayang" sebagai definisi utama tentang ayahnya adalah bukan hal yang kita temui setiap hari.

Di sinilah lingkaran coach-athlete trust itu menemukan bentuk sempurnanya. Rahmat menjadi ‘anak patuh’ karena ia tampaknya memahami bahwa di balik setiap arahan di pelatnas dan beratnya barbel latihan, ada cinta yang membuat semua itu terasa berbeda.

Ia berdiri di atas zona aman yang paling kokoh—ruang tempat ia bisa bertumbuh tanpa merasa bahwa kegagalan akan membuat dirinya kehilangan kasih sayang sang ayah.

Dari ruang aman itulah, seorang anak muda bisa mewujudkan cita-citanya melampaui rekor sang ayah.

Warisan yang Tak Terputus

Pola didik dalam keluarga ini memang bekerja dengan cara yang menakjubkan. Rahmat tidak hanya mewarisi disiplin dan teknik angkat besi, tetapi juga tampak menduplikasi cara bapaknya mencurahkan kasih sayang.

Di usianya yang kini 25 tahun dan telah menjadi seorang ayah, ia mulai memupuk lingkaran kasih sayang yang sama kepada buah hatinya sendiri—meneruskan estetika pengasuhan yang ia terima sejak kecil.

Kata Rahmat, motivasi terbesarnya saat ini adalah anaknya.

Ia senang akan segera pulang dan bertemu dengan keluarga yang telah memberi dukungan moral penuh untuknya.

Namun ketika ditanya apakah kemenangan ini berarti ia bisa bersantai sejenak, wajah Rahmat berubah serius.

Ia menjawab, "Oh, ngga begitu. Pulang dari sini saya harus balikin kondisi lagi. Soalnya kan sebentar lagi ada kualifikasi Olimpiade, tahun depan sudah SEA Games, lalu ada kualifikasi lagi, sampe nantik puncaknya Olimpiade 2028. Harus latihan."

Nada bicaranya sama sekali bukan tipikal orang yang tertekan oleh ambisi. Sebaliknya, itu adalah suara seorang atlet matang yang sadar sepenuhnya atas tanggung jawab di pundaknya.

Ia mewarisi etos kerja keras yang murni dari orang tuanya—ia paham bahwa impian besar menuntut komitmen yang tidak pernah libur.

Menatap perjalanan luar biasa ini, Rahmat Erwin Abdullah pada akhirnya telah menjadi inspirasi yang melampaui sekadar catatan rekor.

Alangkah indahnya jika lebih banyak anak di negeri ini tumbuh dengan dukungan dan ruang aman seperti yang diterima Rahmat—ruang untuk memilih, bertumbuh, gagal, mencoba lagi, dan tetap tahu bahwa dirinya dicintai.

Bisa bayangkan bagaimana hebat jadinya bangsa ini?

Akan halnya Rahmat, langkahnya masih panjang. Kita tentu berharap besar, perjuangannya ini akan terus membawanya terbang tinggi: meraih medali emas di Olimpiade Los Angeles 2028 mendatang.

Ilustrasi tangan menggenggam barbel dengan detail cat air. Semangat Spektra Arunika dari sudut pandang Yuk Feby.

Di ujung perbincangan dengan awak media di Nagoya, seorang reporter melontarkan pertanyaan terakhir, "Kalau ada satu pesan yang ingin kamu sampaikan ke orang tuamu, apakah itu?"

Rahmat menatap lurus ke arah kamera. Senyum jenakanya mengembang, lalu dengan nada suara yang hangat, ia menutup seluruh rangkaian kisah ini dengan kalimat lembut:

”Luv yu…”